Saturday, January 22, 2011

Waspadai Hobi Menggunjing

Samakah Hibah (menggunjing)  dengan menggosip atau ngrumpi  ? 

Ghibah atau menggunjing adalah perbuatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk membicarakan aib atau kejelekan orang lain. Sesungguhnya Allah SWT dan Rasul-Nya amat mengecam keras terhadap perbuatan ini sampai-sampai beliau menyebut para penggunjing itu  tak ubahnya seperti “manusia kanibal”- Pemakan daging busuk (bangkai) saudaranya sendiri.

Sebuah analogi yang menyiratkan betapa sesungguhnya ghibah merupakan perbuatan yang sangat buruk, menjijikan dan “tidak manusiawi”, tapi ironisnya akhir-akhir ini masyarakat kita seolah-olah tengah dilanda demam “menghibbah”, dalam ruang publik tidak segan orang menggunjing dan membuka aib saudaranya sendiri, bahkan tak jarang justru banyak kalangan yang menjadikan “penggunjingan” sebagai sebuah metode ampuh untuk menjatuhkan karakter dan citra baik teman maupun lawan.

Ketahuilah bahwa orang yang suka menggunjing sesungguhnya adalah cermin dari pribadi yang gelisah, dimana ia selalu saja dilanda keresahan dan kedengkian manakala melihat orang lain bahagia, sukses dan lebih beruntung dari dirinya. Sehingga sebagai pelampiasan kekesalan dan ketidaksenangan tersebut, ia menjadi lebih suka menggunjingkan aib saudaranya ketimbang menghargai kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada diri mereka.

Karena itulah mulut para penggunjing dimanapun ia berada hanya akan menebar aib dan kebusukan belaka, bahkan terkadang mereka tidak menyadari bahwa  betapa sebenarnya aib dalam dirinya itu lebih busuk daripada orang yang sedang  dipergunjingkan. Maka jangan heran jika orang-orang yang gemar menghibah itu biasanya adalah tipikal orang yang bermuka dua alias munafik, di depan ia berlagak seperti teman, tapi di belakang ia seperti musuh yang siap membeberkan dan memperkaraan semua aib teman/saudaranya sendiri.  

Orang yang gemar menghibah sebenarnya sangat rentan terjerumus pada perbuatan fitnah dan adu domba. Sebab jika aib/kejelekan yang sedang dipergunjingkan dan dibeberkan itu adalah tidak benar, maka itu berarti ia telah masuk dalam area  perbuatan fitnah. Sementara perbuatan fitnah itu adalah lebih kejam daripada pembunuhan, sebab  madorotnya sangatlah besar lagi berbahaya. 

Sesungguhnya di balik perbuatan fitnah itu mengandung unsur  pembunuhan karakter atau citra terhadap orang yang difitnah, dan  ini sangat besar bahayanya bahkan melebihi pembunuhan. Sebab ketika seseorang itu menjadi korban pembunuhan, maka  ia hanya akan kehilangan nyawa, tapi pembunuhan karakter melalu perbuatan fitnah dapat mengakibatkan seseorang itu hidup dalam ketidak percayaan dan penilaian yang keliru dari orang lain/ masyarakat. Dan keadaan yang demikian ini sangatlah tidak menguntungkan serta menyiksa bagi korban fitnah. Bahkan ketika dirinya telah meninggal dunia pun terkadang penilaiaan yang keliru akibat fitnah tersebut tetap saja melekat dalam dirinya, Karena itulah bahaya fitnah itu sebenarnya bersifat lebih luas dan komplek dari tindakan pembunuhan.

Orang yang terbiasa menggunakan strategi fitnah di dalam menjatuhkan kawan maupun lawannya, adalah orang yang tidak akan segan dalam menempuh jalan pintas dengan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan dan harapannya. Ia bisa menjelma menjadi pribadi yang sangat licik, kejam dan tidak berpri kemanusiaan dalam “membunuh” mangsanya. Oleh karena itu tidak jarang orang yang gemar berbuat adu domba dan fitnah pada akhirnya hanya akan menjerumuskan dirinya snediri pada kehancuran dan derajat kebinatangan, bahkan lebih rendah daripada itu, na’udzubillah min dzalik.

No comments:

Post a Comment